Pages


Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu. Tampilkan semua postingan

Met Milad Ummi Sayang...

Ummi, Ibu, Bunda, Simbok, Mama, Emak. Apapun sebutannya, orang yang melahirkan dan merawat kita dengan penuh kasih sayang selalu istimewa dan mendapat tempat khusus di hati kita, anak-anaknya. 

ummi and ayash
Begitu juga saya sebagai anak, anak yang cengeng tepatnya. Hal apapun itu kalau sudah bersangkut paut sama ummi, pasti bawaannya jadi melow, apalagi kalo sedang tinggal "merantau" seperti sekarang ini. Emang sih, Jakarta-Jogja nggak jauh-jauh banget. Ztekhnologi juga udah maju. Tapi tetep aja kalo kangen mah kangen, hehehe.

Dulu, saya memanggil dengan sebutan "Ibu" untuk orang yang sangat hangat ini. Tapi semenjak kakak laki-laki saya masuk ke ponpes, kami sekeluarga mulai membiasakan diri memanggil orang tua kami bukan lagi "Bapak-Ibu" tapi "Abi-Ummi". Lho kok bisa? yang masuk ponpes abangnya, tapi sekeluarga kena imbasnya. Ya nggak tau ya...waktu itu saya cuma iya-iya-o saja sih, hehehe. Ceritanya, sebelum kakak laki-laki saya itu belibur di rumah, "tetua" di ponpesnya berpesan sambil guyon, "Coba, nanti sepulangnya kalian ke rumah, ganti, yang tadinya panggil Mama-Papa, jadi Ummi-Abi, pasti uang jajannya ditambahin". Sepulangnya ke rumah, kakak saya langsung mempraktekkan apa yang dirasanya sebagai amanah kepada dirinya itu. Orangtua saya awalnya bingung, tapi setelah diceritakan, mereka malah terkekeh-kekeh dan menyetujui panggilan baru yang mereka anggap lebih bagus itu.

Saya ingat, agak canggung dan sangat susah mengganti kebiasaan memanggil Ibu menjadi Ummi dan Bapak menjadi Abi. Seringkali ada kata "eh" diantaranya. "Ibu, eh, Ummi" atau "Bapak, eh, Abi". Pokoknya ribet-lah. Tapi lama-kelamaan toh kami terbiasa juga. dan malah sekarang kelihatannya memang lebih seru dengan panggilan itu. :)

Busy and Full Day Parents

Kayaknya hari Sabtu yang katanya "weekend", bener-bener nggak berlaku buat saya akhir-khir ini. Adaaaa aja kegiatannya. Karena senin sampai jum'at waktunya hampir abis dipake nguli alias nguliah, jadi semua kegiatan diluar kuliah beramai-ramai diadainnya hari sabtu. Kadang walaupun si sabtu sudah dikorbankan, si minggu juga tetep harus melepaskan hakikatnya seperti kebanyakan hari minggu yang lain. Ngerti nggak? saya sih bingung. :D

Yah...all I'm trying to say here is just same with the last posting : I loss my free time.

Tapiiiii...alhamdulillah yah, bedanya, sekarang saya sudah menemukan makna positif dibalik semua kegiatan yang menumpuk ini. Belakangan ini saya suka berfikir bahwa sibuk adalah anugerah. Kalo kita sibuk, it means that we didn't waste our time. Hampir semua waktu yang kita punya dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. iya kan? Apalagi kalo kegiatan itu memberikan "value added" buat diri kita sendiri. Beuuh..jadi double adventages donk kalo begituuuu...of course! Selain itu, kita akan merasakan bahwa diri kita ini "berguna" dan "ada". Kalian pasti tau -atau kalo belum tau, tak kasih tau deh- bahwa banyaaaaakkk sekali orang di luar sana yang sangat ingin punya kesibukan. Yup! pengangguran. Nggak sedikit lho pengangguran yang stress (ya iyalah!). salah satu faktornya bisa saja gara-gara bosan, nggak ada hal yang bisa dilakukan oleh mereka, disamping alasan utama yang biasanya : tekanan dari orang-orang sekitar.


Lomba Ibu Bercerita (lagi)

Beberapa hari yang lalu, aku main ke perpus kota. Setelah libur panjang yang bener-bener panjang, itu adalah kali pertamaku main kesana lagi. Kemaren itu ceritanya killing time aja sambil nunggu jam pulang adek-adek sepupuku dari sekolah. Biasa, aku masih jadi tukang ojeg jemputin mereka pulang dari sekolahnya. Karena penasaran sama buku Habibie-Ainun juga yang katanya ada disana, jadilah killing time di tempat itu.

Hmmm...hampir sekitar sebulan lebih aku nggak main kesana, nggak ada yang banyak berubah. Masih sama. Gazebo masih penuh sama anak-anak SMA dan kuliahan yang asik browsing (sambil ngerumpi, bagi yang cewek-cewek), fasiitas komputer-internet masih dipenuhi sama anak-anak SD yang lagi asik-asiknya mengenal game online atau facebook, dan mbak-mbak/mas-mas petugasnya masih yang itu-itu juga. Belum ada wajah baru kayaknya.

Sekitar setengah jam muter-muter, ternyata buku yang kucari nggak ada. Maklum, liat di list nya sih cuma ada satu buah di rak buku, tapi peminat yang mau baca buanyak banget, jadinya pasti sangat sulit nemuin buku itu duduk manis di tempatnya. Yang kutemuin malah buku "Pak Beye dan Istananya". Pasti udah pada tau kan tentang buku itu? atau malah ada yang udah baca? Hmmm..nggak salah ambil, ternyata bukunya emang oke punya. Resensinya kapan-kapan aja kali ya.... :D

Setelah memutuskan pinjem buku itu, aku nyomot leaflet yang ditaruh di deket guest book. Ternyata eh ternyata, puskot mau ngadain lomba "Ibu Bercerita" lagi! Aku pernah mosting tentang hal ini tahun kemaren di sini. Dan ternyata tahun ini ada lagi. Ayoo..ayoo..temen-temen blogger yang udah jadi ibu-ibu, menetap di Jogja dan memenuhi syarat, kalo mau, ayo pada ikutan ajah.... Siapa tau bisa menang, lumayan lho hadiahnyaaa....hehehe

Sebenernya bukan tentang hadiah aja siihh..pengalamannya itu yang nggak bisa tergantikan. Aku aja yang cuma duduk manis menonton waktu itu rasanya seneng banget, apalagi bisa ikut berpartisipasi ya? :)
Ini dia nih syarat dan ketentuannya.

'"Lomba Ibu Membaca Cerita"
Tema : "Membangun Generasi Bangsa Melalui Tutur Kata Dalam Bercerita"
Peserta
Ibu Rumah Tangga dari taman bacaan masyarakat, PKK, PAUD, PKB serta masyarakat umum di wilayah kota Yogyakarta.

Syarat Peserta
1. Sudah menikah
2. Fotocopy KTP
3.Memiliki bukti berdomisili di kota Yogyakarta.

Mekanisme Pendaftaran
a. Mengisi dan mengembalikan formulir pendaftaran
b. Menyerahkan fotocopy KTP
c. Menyertakan deskripsi bahan cerita/buku meliputi judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, sinopsis cerita rangkap 3.

Mekanisme Seleksi
a. Babak Penyisihan dipilih 10 peserta terbaik
b. Babak final dipilih 3 peserta terbaik

Waktu Pelaksanaan 
a. Pendaftaran             : 20 Sept-20 Okt 2011
b. Babak Penyisihan    : 24-25 Okt 2011 (08.00-15.00 wib)
c. Babak Final             : 28 Okt 2011(13.00 wib)

Hadiah Kejuaraan 
a. Juara I : Tropi, Sertifikat, uang pembinaan Rp.1.250.000
b.Juara II : Tropi, Sertifikat, uang pembinaan Rp.750.000
c.Juara III : Tropi, Sertifikat, uang pembinaan Rp.500.000 

Asik kaaaan???ayoo..ayoo..buat temen-temen blogger yang memenuhi syarat boleh langsung capcus buat ndaftar. Aku sih pengen banget nonton, insya allah kalo ada waktu berangkatlaaaahh.... hehehe. Kenapa sih aku excited banget sama hal ini? waktu nonton yang dulu itu, sambutan dari panitia (entah ketua panitia atau siapa, lupa) menjelaskan betapa pentingnya arti mendongeng dalam berperan mencerdaskan anak bangsa. Someday, kalo aku diizinkan jadi Ibu sama Yang Maha Kuasa, aku juga ingiiiin banget bisa mendongeng dengan baik buat anak-anak.. ^^,

Nggak cuma ngasih tau betapa pentingnya mendongeng itu, beliau juga memberi sedikit trik en tips cara mendongeng yang baik. Waaahh..banyak banget ya ilmu yang bisa didapet dari acara simple kayak gini...

Oke deh, kalo kurang jelas infonya bisa di langsung menuju ke TKP.. :D

Umi, Jacket, and The Power of "Kerokan"

Udah hampir seminggu ini umiku bermalam di rumah sakit Sardjito, nungguin mbah kakung yang lagi sakit, gagal ginjal. Kasian, tidur dan makannya jadi nggak teratur, padahal udah tiga minggu sebelumnya umi udah tidur di rumah sakit Kebumen. Nungguin orang sakit yang ada malah jadi ikutan sakit deh, ckckck. Kalo ada jam kuliah kosong biasanya aku mampir kesana, yah..sekedar nganterin rujak ice cream, buat penyemangat. :)) . Kalo besoknya kuliah libur, aku juga ikutan tidur disana, lumayan, umi bisa gantian tidurnya sama aku.

Tapi, hari Jum'at kemarin umi kayaknya bener-bener butuh tidur yang lelaaaap banget, walopun cuma satu malam. Soalnya, abis nungguin mbah cuci darah semaleman umi nggak tidur blas. En finally I took her home. Berangkat pulang sekitar abis maghrib, sepanjang jalan ke parkiran aku batuuuuukkk terus. Emang sih, beberapa hari ini tenggorokan gatel banget, batuk aja bawaannya.

Emang dasar udah bawaannya ibu-ibu kali ya, seberapapun nggak enak terasa kondisi badannya, kalo liat anaknya sakit pasti pikirannya malah tertuju ke anaknya. That's why, sepaaaaanjang perjalanan pulang aku bonceng umiku, dapetlah "wejangan" yang nggak abis-abis. Yang tentang pola hidup nggak teraturlah, yang suka ngebutlah,  yang nggak mau minum obatlah, en yang paling banyak ngambil porsi adalah tentang malasnya aku pake jaket kalo bepergian, termasuk pergi ke kampus. Emang males banget kalo pake jaket kalo pergi-pergi itu, ribet sih. Kata dia, itu penyebab utama aku batuk-batuk terus.

Nasi Liwet



As I said in my previous posting Tata Surya-ku, the most memorable thing in my last short holiday was when we were got "nasi liwet" as our breakfast. I would like to share how to make it, here we go :

All you need :
  • Rice
  • Water
  • Garlic
  • Salam Leaf
  • Sereh
  • a little of cooking oil
  • Salt
The equipment are :


  • A pan
  • An useless cover of the pan
  • A stove
How to make it :

Tata Surya-ku

“Terlalu manis untuk dilupakan…untuk dilupakan..

Kenangan yang indah bersamamu, tinggalah mimpi..” 




Biasanya lagu slank itu didedikasikan buat pacar, kekasih, muhibbah, atau apapun itu sebutannya. Tapi rasa-rasanya kali ini penafsiranku sedikit berbeda
dengan orang kebanyakan. Gak cuma lagu slank yang itu aja, semua lagu cinta yang -sengaja atau nggak- mampir di telingaku, pronounnya  pasti refers to mereka: keluargaku. Dari “I Will Be” nya Avril sampe “Just The Way You Are” nya Bruno Mars semuanya untuk mereka.

Memang, belakangan ini aku sedang merasa care banget sama mereka, merasa patut lebih bersyukur lagi telah dianugerahi mereka semua. Mungkin pengaruh homesick kali ya… I do really-really love them (dan seharusnya itu jadi hal yang wajar kan?). Aku selalu menganggap keluargaku adalah keluarga yang sempurna dengan segala kekurangan di dalamnya, “there’s no a thing that I would change” kalo kata si Bruno sih kayak gitu.

Satu minggu lebih terasa sangat singkat jika dihabiskan bersama mereka. Bahkan jika dihabiskan hanya dengan hal-hal rutin dan sepela. Jauh berbeda dengan menghabiskannya di ruang kuliah (ya iyalah!). Jadi inget analogi maz Huda tentang waktu dan kue. Jika waktu diibaratkan kue, maka satu minggu lebih kemarin adalah kue terenak yang pernah kumakan selama ini. Sayangnya, berapapun jumlah uang dan usaha yang kita keluarkan, kita tidak akan bias mendapatkan kue yang persis “sama”.

Keluargaku. Masing-masing individu

Yang Berbeda

Lagi, manusia berencana, dan Dia lah penentu segalanya. Rencananya liburan semester ganjil yang sangat singkat ini sudah kususun sedemikian rupa sehingga tak ada waktu yang terbuang percuma (halah!). Rindu akan rumah kecil di sudut kota yang penuh sesak dengan penduduk itu mengambil porsi terbanyak diantaranya. Tapi ternyata Dia berkata lain, “Hey kamu, anak manusia yang masih sangat sedikit amalnya, Kuberi kamu satu kesempatan untuk menambah “bekal” mu menghadapKu kelak. Pergilah, rawat dan sayangilah dua orang tua renta di sudut desa itu, merekalah orang yang sesungguhnya paling mencintai ibumu, pemilik telapak kaki surgamu”. Begitulah. Mau tidak mau, melangkah juga kaki ini ke sumur pahala itu. Berharap itu salah satu kesempatan yang diberikan olehNya untuk mensubtitute dosa-dosaku yang bejibun itu, hehehe…

Di sanalah, akhirnya kuhabiskan empat hari pertama libur singkatku. Hmm...banyak hal yang kuperhatikan tidak berubah sejak terakhir kali ku kesana, lebaran tahun lalu, tapi banyak juga yang sebaliknya.

Bakmi Jowo (Bakmi Nyeme')

Semalem ngacak-ngacak dapur lagi sama bulik.. :D
Nyoba masak Bakmi Jowo yang suka ada di pinggir jalan itu lho....hehehe
mo nyoba bikin juga?monggo..
mm..yummy... :p~




Bahan-bahan :

  • Bihun 1 pck
  • 3 butir telur
  • 3 ikat sawi hijau
  • Separuh kol (kubis)
  • Bakso 1 pck
  • Ayam (secukupnya)
  • Daun bawang
  • Bawang goreng
  • Air panas secukupnya


Bumbu-bumbu :

  • Lada secukupnya
  • Biji pala secukupnya
  • 3 siung bawang putih
  • 6-7 kemiri utuh
  • Garam



Talking About Mom

Yeah.. I know, mother's day has been passed about a month ago. But, I write this posting is not because a mother day. More than that, I suppose that -just like the affection day- mother's day should be celebrated everyday in our life. Because there's no single day for us in the world without her humble.

Yup! She's the one who with a pleasure sacrifice her self for us. Who has suffering her self about nine months for keeping us alive in her womb. Who has a widest smile when we were crying for the first time. Yeah, noone has a bigest love for us as our mom.. :')

Have you ever imagined how was the feeling to be a mom? I've once. Eventhough it wasn't become a real mom. One day, my mother got a phone call from my grand father. He said that my mother had to go to her hometown, because my grandfather got sick and need my mom's help to look after him self.

So, here it is. She left me for a month with all of home works obligation. Coincidently, I was the oldest daughter in our home. Because my older sister was in her boarding house and at that time I just graduated from senior high school and I didn't get any college or university yet.

Kemana aja boleeehh.. yang penting oke..!!!

Hmm.. segarnya udara di halaman blog ini, hehehe... setelah sekian lama (baru juga beberapa hari neng!!) gak ngutak ngatik, rasanya jari-jari kaki, eh..tangan ini ingin beradu cepat memijit si keyboard, hihihi...

Memang beberapa hari kemarin aku pulang ke Jakarta, perihal urus-urus STNK (bayar pajak, de el el yang bikin aku sedikit mual membayangkan kemana larinya semua itu). Tapi aku senang, karena kepulanganku kemarin bukan hanya sekedar memberi suntikan ke Gayus and the gank doank, tapi mau ketemu keluargaku juga, yang entah kenapa walaupun sudah sekitar 20 tahun bersama mereka, aku tidak pernah merasa bosan sedikitpun!! (ya iyalaaah..). Terutama adikku yang paling kecil, Ayashun panggilannya. Makin mengada-ada saja tingkah lakunya yang bikin aku ngakak. Dari nyanyi lagu "keong racun" dengan versi anak kecil (senangkepnya mereka) "...ayo goda diriku, ayo culik diriku.." hahahaha... Ya ampun ni bocah. Sampe ngikutin kalimat yang lagi ngetren disana, misalnya aja waktu aku nanya "ayash, mau main kemana?", spontan dia menjawab, "kemana aja boleeh...yang penting oke!!". Kemudian dia langsung ngacir meninggalkan aku yang melongo di dapur.

Atau, waktu aku nanya dengan sepenuh hati dan

The Winners... :D

As I promised (to you and to my self) before that  I want to announce the winners of  "Lomba Ibu Bercerita : Bercerita Untuk Negeri". And here they are :

1st     :  Ibu Dwi Maming. S.A, "Tanggung Jawab", no.urut 02
2nd    :  Ibu M.G. Budi Susanti, " Suara Apa Itu??", no.urut 12
3rd    : Ibu Siti Aminah, "Kodok Yang Terbakar Amarah", no.urut 07
4th     : Ibu Dewi Widyastuti, "Berkat 2 ekor Anak Ayam", no.urut 10


Well, ternyata benar dugaanku, ibu yang bernomer urut 02 dan 07 berhasil jadi pemenangnya. Seperti yang ada dalam postinganku sebelumnya yang menceritakan kehebohan ibu-ibu itu bercerita, mereka memang pantas mendapatkannya. Kalau yang nomer urut 10 dan 12 aku ndak sempet melihatnya, tapi mereka berdua pasti tidak kalah bagus.. sayang sekali si nenek tidak mendapat juara, mungkin lain kali ya nek... :)


Pokoknya, I say Congratulation for them all. Hidup Iibu-ibu!!!!! hehehehe... :D

"Rolade Daun Singkong"

Daun singkong adalah daun favorit untuk dijadikan lalapan, setelah direbus dan ditiriskan, daun yang bertekstur lumayan lembut ini paling pas jika berpasangan dengan sambel terasi, hmmmm... awas itu netes ilernya!!! hehehe. Selain dijadikan lalapan, daun ini juga kerap dijadikan sayur bersantan. Banyak variasinya, dari mulai dimasak polos dengan santan, dicampur ikan teri yang ndut-ndut, sampai digulung-gulung dengan parutan kelapa berbumbu di dalamnya kemudian diikat, yang sering kita sebut "sayur buntil". Wah, jadi tambah laper neh .

Tapi siapa bilang daun singkong cuma bisa dimasak gitu-gitu aja?? Waktu saya main ke rumah bulik saya di Purworejo, saya disuguhkan hidangan yang menurut saya aneh sebagi sajian berbuka puasa. Aneh, karena baru pertama kali saya memakannya. Namanya "Rolade Daun Singkong". Biasanya, masakan rollade lebih identik dengan
telur. (coba aja liat film-film kartun Jepang atau film korea, pasti yang dibikin rollade adalah telur!). Menurut saya rollade sendiri mungkin berasal dari kata "roll" yang artinya "gulungan". Karena sesuai dengan bentuk dan cara membuatnya yang digulung-gulung. 

Hmmm.. walaupun masakannya "berjudul" sama, tapi bentuknya sete
lah matang pasti berbeda-beda. Tergantung si juru masak, mau membentuknya seperti apa. Kalau saya sendiri lebih senang menilai suatu masakan dari rasanya, (alasan!!!hehe). Kalau contoh rollade daun singkong yang bentuknya indah mungkin seperti ini : 

Sekotel Makaroni ^^

Hari kamis kemarin bulekku mencoba resep baru, dia memang orang yang suka mencoba memasak jenis masakan yang berbeda-beda. Resep ini ia dapat dari tetangga yang berbelanja di warungnya, kalau bahan-bahan yang dibutuhkan tersedia, maka ia tidak ragu mencoba eksperimennya. Aku senang dengan kegemarannya itu, karena dengan begitu aku jadi punya "lab gratis" untuk belajar masak, hehehe.
Iseng-iseng aku mau mencoba menuliskan apa yang kami lakukan di dapur rumah minimalis tersebut. Here it is. 

All you need are :
  • Makaroni 1/4 kg
  • Wortel 3 buah
  • Telur 4 butir
  • Daging giling 1/4 kg
  • Sosis 1 bungkus
  • Keju 1 pck
  • Satu sendok susu bubuk
  • Merica secukupnya
  • Bawang Putih 2-3 siung
  • Margarine 1 bks
  • Biji Pala secukupnya

Hmm.. :)

Semalam, aku terbangun sekitar jam 2 dinihari. Gak tau kenapa belakangan ini sering banget kebangun jam segitu. Kalo lagi rajin sih ya..ambil wudhu terus shalat malam, tapi kalo malesnya lagi kambuh ato ada halangan, ya..biasanya ngerjain tugas, fb-an, ato apalah. Tapi, semalam itu beda, tiba-tiba saja mataku tertuju pada sebuah tabloid yang kuambil beberapa hari lalu dari perpustakaan kota. Yup!! "Pradipta" memang tabloid yang dikeluarkan oleh perpustakaan kota Yogyakarta, mestinya sih keluar tiap bulan, tapi karena beberapa faktor (yang kubaca di awal halaman) maka, Pradipta kali ini tampil untuk nge-rapel beberapa bulan sekaligus.

Edisi kali itu berisi tentang berbagai macam hal. Dari mengisi liburan di Perpustakaan dengan berbagai macam kegiatan, artikel kesadaran go green yang ditulis oleh seorang bocah SD (yang ternyata teman adik sepupuku), info berbagai buku baru di Puskot, sampai sebuah artikel profile tentang seorang wartawan senior yang bernama Mulyadi Adisupho. Banyak hal yang dibahas tentang beliau, di usianya yang sudah lumayan tua, beliau tetap memiliki semangat yang luar biasa dalam menulis, dan menumbuhkan minat baca di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Beberapa penghargaan pun sudah pernah disabetnya. Hmm..malam itu pertama kali aku mengenal salah satu 'senior' di perpus kota.

Pagi keesokan harinya, ternyata dosen Ulumul Hadits ku tidak datang, seperti biasa kalau jam kuliah kosong, aku dan Revo bututku langsung meluncur ke Puskot. Aseeekk..pasti internetan kosong ne, hehehe maklum saja, setelah jam sekolah usai, pasti fasilitas internet akan dijejali oleh bocah-bocah SD dan SMP, biasanya mereka sibuk main game online, hhhh.... Oh ya, sambil nyari buku ekonomi mikro ah..siapa tau ada.

Sesampainya di lantai 2, ternyata puskot gak seperti biasa, lebih ramai daripada hari-hari biasanya. Ternyata sedang diadakan lomba "Ibu Membaca Cerita Untuk Negeri" di sini. Wah, sekalian, pasti seru nih liat ibu-ibu  tampil berlomba membacakan cerita anak-anak. Aku datang ketika acara baru saja dimulai, masih pembukaan, kata sambutan, pembacaan tata tertib perlombaan, dan pengenalan dewan juri. Aku lumayan terkejut ketika nama-nama dewan juri disebutkan, terdengar salah satu nama yang sepertinya pernah kudengar. Ya, ternyata Pak  Mulyadi Adisupho menjadi salah satu dewan jurinya. Wah..baru semalam aku "kenalan" dengannya. Aku tersenyum sendiri dalam hati.

Tempat duduk yang strategis karena mengahadap ke ruang lomba membuatku lebih menikmati pagi itu. Sambil ber-internetan ria, aku bisa dengan leluasa mengamati tingkah polah ibu-ibu keren itu. Dan ternyata lomba yang berlangsung pun sangat sangat tidak mengecewakan. Dimulai dari seorang ibu muda yang cukup grogi (wajar saja, pertama..), tapi ia cukup memiliki keberanian diri menyelesaikan ceritanya. Ibu yang kedua lebih seru menurutku, ekspesinya lebih keluar waktu bercerita. Ia juga membawa sebuah boneka tangan berbentuk kelinci untuk menambah serunya cerita. Tapi ibu ketiga yang menurutku paling heboh. And I really like her. Why?? karena ibu yang ketiga ini lebih cocok dipanggil nenek menurutku, beliau juga sangat seru menyampaikan ceritanya, percaya diri yang sangat tinggi terlihat jelas dari caranya bercerita, sepertinya nenek yang satu ini sudah sangat berpengalaman. Walaupun sedikit nyentrik, tapi perhatian penonton tidak bisa lepas darinya.

Beberapa menit berlalu, dan 3 peserta selanjutnya pun telah lewat. Semua tampak antusias dan enerjik. Ada yang membawa lukisan sebagai alat peraga dan ada pula yang lainnya. tapi belum ada yang seheboh nenek nomer 3 tadi.Sampai di peserta nomer 7, semua terlihat lebih menarik. Si ibu nomer 7 ini pandai mengganti ganti vokalnya, sehingga tidak bosan mendengar cerita yang disampaikannya. Ia juga tidak malu-malu bergerak lincah kesana kemari menirukan katak bergelembung yang diceritakannya. Dan ceritanya pun ditutup dengan tepukan meriah para penonton.

Berlanjut ke peserta nomer 8, ditemani boneka orang utan kecil yang bernama "Omut" ibu itu bercerita dengan fasihnya. Yang menarik dari ibu tersebut, di akhir cerita ia mengajak para penonton berpartisipasi  dalam RC atau Reading Corner. Reading Corner adalah kegiatan perpustakaan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan minat baca pada orang-orang yang berada di pelosok-pelosok desa. RC akan membantu korban letusan gunung merapi untuk tetap bisa menambah wawasan mereka walaupun mereka sedang dalam keadaan yang sangat tersiksa.

Ah ya, gunung merapi... Beberapa hari ini Jogja memang sedang berduka karenanya. Banyak yang menjadi korban karena letusannya. Hati ini juga ikut sedih, tapi setelah melihat semangat ibu-ibu yang telah bercerita tadi, ada terbersit rasa senang dan lega. Karena, bagaimanapun sedang sakitnya ibu pertiwi ini masih ada orang-orang yang tak henti berkreatifitas dan berusaha membangun negeri ini. Jangan salah, lomba bercerita seperti ini juga salah satu cara untuk membangun negeri. How come?? tentu saja, karena as we know, mendongeng atau telling story adalah cara yang ampuh untuk mempengaruhi pikiran anak-anak kecil. Dan kalau kita bercerita dan menyampaikan hal-hal positif  kepada anak-anak kecil di negeri ini, it's mean kita ikut mambantu mencerdaskan generasi muda bangsa ini. Hmm...mudah-mudahan negeri ini terus diberi kekuatan oleh Allah yang Maha Kuasa untuk terus berkarya di tengah-tengah cobaan yang datang melanda.Amin.

Wah..pokoknya seneng deh hari ini, bisa ikut menikmati ibu-ibu itu bercerita..jadi punya keinginan manjadi seperti ibu-ibu hebat itu..hehehe
Sayangnya, giliranku berinternetan sudah hampir habis, tapi giliran ibu-ibu itu masih banyak. Okelah, besok tak kasih tau siapa yang jadi juaranya..Don't miss it ya.. ;D