Tinggal beberapa bulan di rumah si mbah mengharuskanku belajar bahasa setempat. Yah, mau
gimana lagi?? penduduk setempat memang ada beberapa yang bisa berkomunikasi berbahasa Indonesia dengan lancar. Tapi, sebagian yang lain tidak begitu. Terutama para sesepuh yang usianya sudah lanjut, mereka hanya bisa berkomunikasi berbahasa jawa. Maklum saja, sebagian besar dari mereka merupakan orang-orang yang masih mengalami masa-masa setelah penjajahan. Makan saja sulit, apalagi sekolah?. Dan mereka yang beruntung sempat mencicipi Sekolah Rakyat (SR) itulah yang bisa lancar berbahasa Indonesia. Jadi, jangan heran kalau kamu jadi
sapi ompong ketika kebetulan bertemu mereka di jalan atau di suatu tempat dan mereka berusaha beramah tamah kepadamu dengan menanyakan hal apa saja yang ingin mereka tanyakan.
Bagitu pula dengan
simbah ku, mbah kakung lebih beruntung dari mbah putri karena beliau bisa menamatkan Sekolah Rakyatnya dan sempat menjadi pengurus Sekolah Dasar dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan mbah putri hanya bisa setengah jalan menempuhnya. Walaupun Ibu-Bapak ku asli berasal dari tanah jawa, bukan berarti aku fasih menggunakan bahasanya. Bagiku, mempelajari bahasa jawa jauh lebih rumit daripada bahasa arab. Masalah bahasa ini pula yang membuatku mengalami beberapa hal konyol selama tinggal di sana.
Sore itu, kami baru tiba di rumah setelah menempuh 3 jam perjalanan Yogyakarta-Kebumen yang melelahkan.Semua lapar, karena memang belum sempat makan siang. Jadilah aku juru masak dadakan yang memasak bahan-bahan seadanya. Rencananya, kita akan makan mi kuah instan ditemani beberapa potong telur dadar. Karena kasihan melihat mbahku yang kelelahan, aku berkata "udeh mbah..santai aja, istirahat..aku aja yang masak. Okeh??hehehe". Padahal hati masih ragu juga, hmm..kompor
pawon? bisa nyala gak yah ntu api??. Bermodal nekat dan niat mau membantu. Dengan sedikit
klari (daun kelapa kering), korek api, dan kipas tangan akhirnya aku bisa
nyalain kompor itu sambil terbatuk-batuk. Sukses!!.
Setelah itu, 3 bungkus mie segera matang dan kuhidangkan di meja. Tinggal masak telor deh, pikirku..Kebingungan mencari dimana tempat minyak gorengnya, aku pun bertanya "mbah, lengae (minyak)
teng pundi??". "Yo neng kono, neng cerak pawon, ojo lali, sing neng deligen putih kui lengo potro" sahut mbahku. "oh ya.." sahutku. Padahal yang kutangkap hanya "deligen putih". Langsung saja kusambar deligen yang kulihat di kolong meja. Sambil menunduk (karena
pawonnya berada di bawah), kutuangkan minyak itu di atas wajan dan "cesh..cesh..cesh.." sekejap telur itupun matang. Agak sedikit heran juga, telurnya matang lebih cepat dari biasanya.
Setelah semua hidangan tertata rapi bersama piring, sendok, dan yang lainnya. Aku pun menyilahkan mbahku makan. Tak kusangka, baru suapan pertama, mbah kakungku yang memang pertama kali makan langsung muntah-muntah. Panik. Ada apa ini?? Ada apa ini???. Kira-kira begini percakapannya :
Mbah Kakung : "Pih, kamu masak apa tho ini??"
Aku : "ya masak mie mbah, sama telor"
Mbah Kakung : "iya, mbah juga tau..tapi masak telornya pake apa tadi?"
Aku : "ya pake garem mbah"
Mbah Kakung : "moso' pake hanya pake garem bisa rasa MINYAK TANAH gini????"
Aku : "Haaa??? masa' sih mbah???"
Bengong, bingung, en ngerasa oon.Cuma itu yang aku ingat.Mbah putri pun penasaran dan ikutan dalam introgasi yang tidak mengenakkan itu.
Mbah Putri : "lha koe njupuk lengo sing ndi nduk mau?"
Aku : "yo lengo sing teng deligen mbah". sambil menunduk.
Mbah Putri : "sing putih??"
Aku : "nggih mbah"
Mbah Putri : "lha piye tho??tak kandani mau sing putih kui lengo potro"
Aku : "lha iya tho mbah, lengo potro, yo sing kui"
Mbah Putri : ????????
Mbah kakung yang tadinya manyun, langsung tertawa begitu mendengar percakapan kami. Setelah dijelaskan, ternyata tragedi "telor lengo potro" ini hanya masalah missunderstanding saja. Aku mengira, lengo potro adalah minyak goreng. Padahal lengo potro itu artinya minyak tanah. Alhasil, sore itu kami hanya makan mi instan, tanpa ditemani sepotong telor pun. Maafkan aku simbah.. :'(
Pernah ada satu kejadian missunderstanding lagi dari soal bahasa, tentang jenang. Ketika itu, mbah putri menyuruhku membuang jenag yang sudah basi. Dari kecil hingga dewasa aku diperkenalkan oleh ibuku bahwa jenang itu adalah dodol jawa. Maka, ketika melihat beberapa potong dodol itu di atas piring, aku membuangnya. Malam hari ketika mbah putriku ke dapur, ia protes kepadaku, "Pih, nek ora salah aku mau wis ngongkon koe ngguang jenang tho??". Aku mengiyakan dan bilang aku sudah melaksanakan amanah tersebeut. "lha iki opo??" ujarnya sambil menunjuk bubur putih di atas amben. Itu kan bubur..pikirku. "lha sing koe guang mau sih opo??". Aku jadi tambah bingung. "ya jenang sing neng piring mau mbah", aku bersikeras.
Belakangan aku tau ternyata, jenang dalam bahasa jawa berarti bubur. Walaupun dodol itu juga disebut jenang.
Sekarang, kalau mengingat-ingat hal itu, aku cuma bisa senyum-senyum sendiri. Malu, sekaligus menyesal telah bersikeras mengatakan bahwa aku benar. Maafin aku ya mbah..huuhuuhuu.. u.u'
Ternyata, bahasa itu memang benar-benar sangat penting ya... ^^. Tiba-tiba jadi inget pesan dari salah satu guru b.inggrisku selama aku berada di Pare, "if you want to learn about language, learn about their culture first". Ternyata, memang semua itu berhubungan.
Aku dan tulisan ini benar-benar konyol.