Pages


Uneg-Uneg

Belakangan ini kampusku mendadak rame (kalo sepi kuburan neng!). Yah..makudnya jauh bertambah ramai dari biasanya. Hampir sama ramainya kayak waktu ujian, dimana mahasiswa-mahasiswa kalong (kalonggakujian gak pernag masuk) jadi pada rajin. Bukan cuma orangnya, tapi juga "hiasan-hiasan" di dalamnya.Kalo biasanya mata kita lempeng-lempeng aja liat-liat area kampus : gedung perkuliahan, masjid, pohon, gerbang, parkiran, dan sebagainya, belakangan semua berubah.Ruang lingkup pandangan jadi berkurang, serba dibatasi oleh berbagai macam tempelan-tempelan dan baliho yang ditempel dimana-mana.Di pintu masuk fakultas, di pintu kelas, dipasang berjejer dari tiang ke tiang (dah kayak bendera tujuh belasan aja!), sampe di tempat pencetan sabun di kamar mandi. Plis deh!.

Pokoknya ribet lah, dimana-mana kertas. Emang sih bulan ini adalah bulannya demokrasi para mahasiswa di kampusku, karena bulan ini akan diadakan Pemilwa alias Pemilihan langsung mahasiswa. Pasti dah pada tau lah ya.. Maksudnya bulan ini akan dipilih orang-orang yang akan mewakili BEM-J, BEM-F, bahkan BEM Universitas. Kampanyenya kampanye akbar lagi, jadi berbarengan gitu. Nggak heran banyak poster-poster dan brosur yang bertebaran mencari dukungan unutuk masing-masing jagoannya itu.

Nasi Liwet



As I said in my previous posting Tata Surya-ku, the most memorable thing in my last short holiday was when we were got "nasi liwet" as our breakfast. I would like to share how to make it, here we go :

All you need :
  • Rice
  • Water
  • Garlic
  • Salam Leaf
  • Sereh
  • a little of cooking oil
  • Salt
The equipment are :


  • A pan
  • An useless cover of the pan
  • A stove
How to make it :

He's Back!!

Udah sekitar satu setengah tahun ini aku berprofesi jadi tukang ojek, hehehe. Tiap pagi, maksimal jam setengah tujuh aku sudah harus chao dari rumah bulek di bilanganSedayu, mengantar tuyul-tuyul (baca : adik-adik sepupuku) pergi ke sekolah. Mereka semua empat bersaudara, cowok semua. Si sulung yang paling badung, udah cabut dari rumah. Akhirnya dia masuk pesantren juga, jadi dia nggak stay at home lagi. Si bungsu masih TK, di deket rumah. Jadi, penumpangku adalah si nomer dua dan tiga yang duduk di kelas 3 dan 5 SD. Kebetulan sekolah mereka terletak di Jl.Timoho, which is means gak jauh dari kampusku. Jadilah aku ngojek tiap hari, kadang kalau sorenya aku pulang cepat, I pick them up to go home too.

Rutiniitas itu membuatku biasa menikmati suasana lalu lintas di pagi hari yang cukup mmm… macet. Saat-saat tertentu, lalu lintas di Jogja memang tak ubahnya seperti Jakarta, apalagi ketika rush hours, jam masuk dan pulang sekolah atau kantor. Jujur, awalnya aku cukup ketakutan melihat “medan perang” setiap pagi. Semua kendaraan, khususnya motor terlihat seperti gerombolan semut di jembatan Serangan. Gak heran kalau awal-awal aku belajar motor I’ve got three times accident in a month! Amazing..hahaha. Tuyul-tuyul itu juga ikutan jadi korban, kasihan mereka. Si ndut nomer tiga yang nangisnya paling keras, padahal ternyata setelah dilihat, dia doank yang nggak lecet-lecet. However, maafin mbak ya dek.. :’(

Beside all of those scary things
, aku jadi punya kebiasaan lain. Aku jadi lebih sering memperhatikan jalan and everything around it. Because of slow speed, semuanya jadi lebih jelas terlihat. Aku jadi tau nama-nama jalan yang sebelumnya selalu kucuekin :p, bahkan aku jadi senang memperhatikan kegiatan pasar-pasar di pinggir jalan. Tapi, dari semua hal-hal sepele yang kuperhatikan itu, ada satu hal yang menurutku paling menarik.Seorang kakek-kakek yang berjalan-jalan dengan sepatu roda setiap pagi.